Estafet Budidaya Maggot di Desa Jatiraga, Warga Lanjutkan Program KKN-T IPB University

MAJALENGKA — Program budidaya maggot *Black Soldier Fly* (BSF) yang dirintis mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University di Desa Jatiraga, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, resmi dilanjutkan oleh warga setempat.

Setelah dikembangkan selama masa pelaksanaan KKN-T, unit budidaya maggot tersebut diserahkan kepada Lebe Desa Jatiraga, Ato Wiharto. Ia dipercaya menjadi penanggung jawab untuk memastikan program tetap berjalan setelah masa penugasan mahasiswa berakhir.

Bacaan Lainnya

Serah terima tersebut menjadi bagian penting dari program KKN-T karena pengelolaan budidaya maggot tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan desa. Program yang awalnya dirancang sebagai kegiatan mahasiswa kini diarahkan menjadi kegiatan yang dapat dikelola dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.

Berawal dari Sosialisasi

Program budidaya maggot ini diawali dengan sosialisasi di Balai Desa Jatiraga pada Senin (27/7/2026).

Dalam kegiatan tersebut, warga mendapatkan pengetahuan mengenai budidaya maggot sekaligus manfaatnya dalam pengelolaan sampah organik dan pemanfaatannya sebagai alternatif pakan ternak.

Sosialisasi menghadirkan dua narasumber dari BPPTU Jatiwangi, yakni Heru Nugraha, S.Pt. dan Dinda Ulzanah Nurislamiyati, Amd.

Mahasiswa KKN-T tidak hanya memberikan materi kepada warga. Mereka juga mengajak masyarakat melihat langsung unit kandang maggot yang telah dibangun secara mandiri.

Langkah tersebut dilakukan agar warga dapat memahami bahwa budidaya maggot bisa diterapkan menggunakan sarana dan bahan yang relatif sederhana.

Ato Wiharto menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKN-T IPB University yang telah merintis sekaligus memberikan pendampingan kepada warga.

“Saya berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa karena sudah merintis dan mengajari kami dari awal. Insyaallah kandang ini akan terus saya rawat dan kembangkan, supaya warga lain di Desa Jatiraga juga bisa ikut memanfaatkannya,” kata Ato.

Diharapkan Tak Berhenti Setelah KKN Selesai

Penunjukan Ato sebagai pengelola program dinilai strategis karena posisinya sebagai tokoh yang dikenal dan dipercaya masyarakat.

Dengan adanya pengelola dari warga, keberlanjutan program diharapkan tidak bergantung pada keberadaan mahasiswa KKN-T di Desa Jatiraga.

Masyarakat nantinya dapat melanjutkan proses budidaya mulai dari pemberian pakan berupa sampah organik hingga pemanenan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Program tersebut sekaligus menawarkan dua manfaat. Di satu sisi, sampah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan dan tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah. Di sisi lain, maggot yang dihasilkan berpotensi menjadi alternatif pakan bagi peternak.

KKN-T IPB Dorong Program Berkelanjutan

Ketua Tim KKN-T IPB University Desa Jatiraga, Dzacky Surya Bahesty, mengatakan program tersebut sejak awal dirancang agar dapat diteruskan masyarakat setelah masa KKN berakhir.

“Program ini kami rancang bukan untuk selesai begitu saja saat KKN berakhir, tapi supaya bisa terus dijalankan oleh warga. Semoga budidaya maggot ini benar-benar membantu Desa Jatiraga mengurangi sampah organik sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” ujar Dzacky.

Menurutnya, keberhasilan program bukan hanya diukur dari pembangunan unit budidaya selama KKN berlangsung, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk mempertahankannya secara mandiri.

Jika dikelola secara konsisten, budidaya maggot diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu model pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat di Desa Jatiraga.

Program tersebut juga membuka peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang dapat membantu menekan biaya pakan ternak sekaligus memberikan nilai tambah dari pengelolaan sampah rumah tangga.

Dengan demikian, berakhirnya masa KKN-T IPB University bukan menjadi akhir program, melainkan menjadi awal bagi warga Desa Jatiraga untuk melanjutkan dan mengembangkan budidaya maggot secara mandiri.

Pos terkait